Rombongan BAZNAS Kota Bekasi saat berkunjung ke Yayasan Da’wah Ummahatul Muslimat Pondok Melati.

Sebanyak 721 anak yatim dan dhuafa yang bersekolah di TKA/ TPA, SD Islam, SMP Islam, dan SMK Nurul Hikmah II, Jl Raya Kp Sawah RT 02 RW 03 Kelurahan Jatimelati, Pondok Melati, Kota Bekasi tak dibebani biaya sepeser pun. Operasional sekolah dan siswa dibiayai penuh oleh para donatur. Sedang kebutuhan per tahun tak kurang dari Rp1,5 miliar.

Sekolah yang berada di bawah Yayasan Da’wah Ummahatul Muslimat ini, awal Maret lalu, mengajukan proposal yang ditindaklanjuti dengan survei ke sekolah yang berdiri sejak 1997 itu pada Rabu (24/3). Dalam proses audiensi dan rapat internal bersama yayasan, disepakati BAZNAS Kota Bekasi akan memberikan bantuan secara rutin setiap bulan Rp10 juta.

Program bantuan pendidikan yang menyasar ratusan penerima manfaat ini merupakan respons perolehan zakat profesi aparatur yang naik di awal 2018. Bantuan tersebut, kata Ketua BAZNAS Kota Bekasi Paray Said, dapat diwujudkan dalam bentuk seragam, pengadaan buku, penambahan gizi, dan lainnya, dengan format laporan pertanggungjawaban per semester.

Ketua Yayasan Ummahatul Muslimat Maryam S Arifin mengatakan, dalam proses seleksi siswa baru, ia mematok kriteria mereka yang memang betul-betul tidak mampu. Yaitu dengan mekanisme seleksi administrasi, wawancara, dan survei on the spot. Yayasan, kata Maryam, tentu tak ingin serampangan dalam menjalankan amanah donatur.

“Biasanya begitu dibuka pendaftaran, langsung membludak,” ujar Maryam kepada kami.

Lengkapnya unit pendidikan mulai dari TK sampai SMK, dengan kualitas bangunan sekolah yang bagus, serta akreditasi A yang diperoleh, adalah bukti bahwa Nurul Hikmah II dikelola dengan manajemen yang andal dan profesional. “Kita nggak kalah dari segi KBM, fasilitas, output yang dihasilkan. Ibaratnya, samalah dengan sekolah yang bayar,” jelasnya.

Sejumlah lulusan Nurul Hikmah II, untuk menyebut beberapa, ada yang melanjutkan kuliahnya di UGM dan bahkan ada yang hafidz al-Qur’an. Dua tahun terakhir, untuk SMK-nya saja, telah berhasil menorehkan prestasi juara II MHQ se-Kota Bekasi, juara III short movie se-Kota Bekasi, juara II MTQ se-Kota Bekasi, grup drama terbaik se-Jabodetabek, dll.

Ketua BAZNAS Kota Bekasi H. Paray Said mengatakan, secara kelembagaan BAZNAS merespons baik rencana kerjasama dengan Yayasan Da’wah Ummahatul Muslimat. Teknisnya, akan dibuat MoU antarkedua lembaga sebagai pengikat bahwa bantuan yang diberikan tidak bersifat insidentil, tetapi simultan, dan bergantung penerimaan zakat profesi.

Namun, Paray meminta pihak yayasan untuk menambah kelengkapan terkait administrasi. Dia bilang, tidak menutup kemungkinan bantuan tidak hanya datang dari BAZNAS Kota Bekasi, dia juga akan membangun komunikasi dengan BAZNAS di provinsi dan pusat. “Ini konsep kerjasama yang nggak harus menguntungkan buat BAZNAS, cukup keuntungan pahala saja, insya Allah,” tukasnya.

Sejarah Perjalanan

1992 adalah tahun pertama kali Yayasan Ummahatul Muslimat mengepakkan sayapnya di Kota Bekasi. Waktu itu, Ketua Yayasan Ummahatul Muslimat Alia Munabari mendapatkan informasi bahwa di kawasan Kp Sawah, Jatimelati, Pondok Melati, banyak masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan (fakir) sehingga rentan kufur.

Pada periode awal, Ummahatul Muslimat tidak langsung membuka jalur pendidikan. Mereka lebih banyak melakukan pengajian dan kegiatan sosial laiknya pemotongan hewan kurban, santunan, pelatihan keterampilan menjahit, keterampilan bengkel, dan membiayai anak-anak putus sekolah. Hingga akhirnya lahirlah TK dan SD Nurul Hikmah II pada 1996.

“Tahun 2003 angkatan pertama lulus. Waktu itu, beberapa wali murid datang ke Bu Alia. Mereka minta Bu Alia bikin SMP Nurul Hikmah II, sebab anak-anak mereka bisa jadi akan putus sekolah, karena ketiadaan biaya,” ujar Manajer Pendidikan Yayasan Ummahatul Muslimat Muhammad Misbah.

Maka tak selang berapa lama, Alia memutuskan mendirikan SMP dengan kondisi keuangan yayasan yang sangat tidak memungkinkan. Proses belajar mengajarnya menggunakan dua ruang sisa dari gedung SD, selama dua tahun, hingga akhirnya yayasan bisa membangun gedung SMP. Modalnya, kata Misbah, hanya semangat dan keikhlasan.

“Segala upaya dilakukan, mulai bikin kupon, proposal, datang ke kolega-kolega Bu Alia, tapi biayanya masih kurang. Akhirnya ada satu orang yang siap membackup semua, mulai dari melunasi utang material, bayar honor tukang, bahkan sampai menyiapkan sarana kursi kelas,” kata Misbah.

SMP Nurul Hikmah II pun diresmikan pada 2005. Saat angkatan pertama lulus, cerita kembali berulang.

Alia berpikir, akan ke mana anak-anak setelah lulus SMP. Beberapa sekolah yang muncul justru sekolah umum. Maka Alia memikirkan opsi mendirikan SMK. Problem yang dihadapi pun sama, tidak ada tanah dan biaya membangun gedung. Namun tak lama berselang, keluarga RW setempat menawarkan tanah di dekat gedung SMP. Tak pikir panjang, Alia membeli tanah tersebut.

“Mereka, ibu-ibu, 18 orang, patungan. Ada yang 5 juta, 10 juta, 20 juta, sampai ketutup (biayanya). Setelah tanah terbeli, ibu ditanya, kapan mulai bangun. Beliau ngasih 10 juta untuk modal awal. SMK Nurul Hikmah II akhirnya diresmikan oleh Wali Kota Bekasi tahun 2008,” kata Misbah.

Alia Munabari wafat beberapa bulan yang lalu. Ia meninggalkan ilmu, semangat, dan kiprah yang tak kan dilupakan oleh mereka yang mencecap manfaat jerih payah dan kontribusinya di dunia dakwah, sosial, dan pendidikan. (sbi)