Dalam rangka mensosialisasikan aturan pengelolaan zakat yang legal oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Kota Bekasi, BAZNAS Kota Bekasi mulai melakukan kunjungan ke DKM Masjid Al Mubarok Jl. Dewi Sartika, Bekasi Timur, Sabtu, 28 September 2019.

Wakil Ketua BAZNAS Kota Bekasi Dr. KH. M. Aiz menyampaikan, di Kota Bekasi ada Badan Amil Zakat Nasional, lembaga pengelola—menghimpun dan menyalurkan—zakat, infak, sedekah (ZIS) yang dibentuk oleh pemerintah. Dana yang sudah dihimpun, disalurkan ke 8 asnaf (golongan): fakir, miskin, amilin, muallaf, riqab, ghorimin, fisabilillah, dan ibnu sabil.

Dalam proses pendistribusian, BAZNAS Kota Bekasi menggunakan dua metode: konsumtif dan produktif. Yang konsumtif, sekali kasih habis. Laiknya untuk biaya hidup, musafir, bantuan kesehatan, dan sejenisnya. Sedangkan produktif untuk pemberdayaan laiknya bantuan gerobak dagang dan modal usaha.

“Kalau zakat produktif yang berdaya tidak hanya 1 orang dan akan menyisakan atsar [bekas]. Akan ada efek domino. Bahkan bisa jadi yang berdaya akan merembet minimal ke 1 keluarga. Makannya, mestinya persentase zakat produktif ini lebih besar daripada yang konsumtif,” ungkapnya.

Aiz mengungkapkan, BAZNAS Kota Bekasi akan menyalurkan program bantuan modal usaha berbasis masjid atau gerobak dagang melalui DKM Al Mubarok. Jika BAZNAS Kota Bekasi sudah membantu dari aspek ekonomi, maka DKM diharapkan berperan untuk meningkatkan aspek spiritualitas mustahik.

“Kami ajak DKM untuk ikut terlibat sejak pengajuan, siapa saja kira-kira jamaah Masjid Al Mubarok yang membutuhkan bantuan modal usaha atau bantuan gerobak. Harus didantain, jenis usahanya apa, butuhnya berapa, buat apa saja, supaya uangnya betul-betul bermanfaat dan bikin usaha tambah berkembang,” kata Aiz.

Wakil Ketua IV Abdul Haris juga ingin menegaskan sistem pengelolaan zakat fitrah oleh masjid. Jika ada isu di luar sana bahwa dana zakat fitrah yang dihimpun oleh BAZNAS Kota Bekasi dimanfaatkan oleh orang atau pihak yang tidak bertanggungjawab, maka yang bersangkutan dipersilakan melapor ke BAZNAS Kota Bekasi.

Tapi yang penting diketahui adalah, ada persentase amil 12,5% yang berhak diambil pengelola zakat mulai dari hulu sampai hilir. Karenanya setiap menjelang Ramadan selain membagikan tanda terima (kupon) zakat, BAZNAS Kota Bekasi juga memberikan matriks pembagian jatah amil mulai dari tingkat masjid sampai di tingkat kota.

Terakhir, ia berpesan kepada seluruh masjid di Kota Bekasi, termasuk Masjid Al Mubarok, Bekasi Timur, agar membentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ). Tentu keputusan tersebut boleh diambil setelah DKM merasakan manfaat keberadaan BAZNAS Kota Bekasi. “UPZ tidak harus menyetorkan zakatnya ke BAZNAS, tetapi hanya melaporkan keuangan,” tukasnya. (sbi)